Sabtu, 06 Agustus 2011

Karena Jiwa Punya Hajat


Keagungan. Keluruhan. Ketinggian. Hanya itu yang ada pada misi cinta. Romantika juga ada. Tapi tetap dalam bingkai itu. Kita sebut romantika perjuangan. Seperti ketika kita memandang indahnya pelangi yang menggores langit. Mengagumkan. Mempesona. Tapi ada jarak. Itu keindahan yang dilukis oleh nilai: kekuatan yang memvisualisasi sisi malaikat dari dalam diri kita diatas kanvas kenyataan, lalu melegenda dalam riwayat sejarah.

Tapi manusia tercipta dari tanah. Dan tanah punya tabiatnya sendiri. Juga punya rasa, punya mau, punya hajatnya sendiri. Juga punya permintaannya sendiri dari asal usul ini, kehidupan manusia tersublimasi menjadi riwayat yang rumit dan kompleks. Begitu juga cinta yang lahir dari sini. Kalau dalam cinta misi perasaan bergerak mengikiti pikiran dan nilai, dalam cinta perasaan dan jiwa bergerak memenuhi kebutuhannya sendiri. Kebutuhan akan kegenapan. Kebutuhan akan kesatuan.

Sendiri. Sepi. Itu musuh jiwa manusia. Sebab alam ini termasuk kita tercipta berpasangan. Begitu juga: kita semua punya pasangan hidup dalam perkawinan dan pasangan sosial dalam bermasyarakat. Perjalanan menemukan pasangan jiwa adalah kebutuhan eksistensial. Sampai kita menembus ruang dan waktu yang panjang: sebab keterpisahan ini, kata Rumi, hanya tipu daya waktu.

Sebab ia lahir dari kebutuhan akan kegenapan dan kesatuan, maka cinta jiwa masyarakatnya adalah penerimaan. Tidak ada pertemuan tanpa penerimaan. Syarat ini tidak selalu ada dalam cinta misi. Tapi syarat ini pula yang membuat cinta jiwa jadi rumit. Sebab asa penerimaan jiwa disini juga beragam. Ada faktor keseimbangan. Seperti dua sungai besar yang bertemu dalam samudra yang sama lalu menciptakan gelombang cinta yang dahsyat. Itu cinta yang lahir dari kesamaan.

Atau lidah api yang menyala-nyala namun dipadamkan oleh air yang sejuk. Cinta yang ini lahir dari kebutuhan dan kesimbangan. Atau seperti air bening yang mengaliri lahan tanah yang subur lalu melahirkan taman kehidupan yang indah. Ini kegenapan jiwa yang melahirkan cinta.

Kerumitannya terletak pada pencarian “meeting point” dari dua jiwa. Itu ada pada kesamaan atau kegenapan atau keseimbangan antara dua karakter. Hampir tidak ada pertemuan jiwa diluar ketiga meeting point itu. Bayangkanlah bila terjadi sebaliknya. Api bertemu angin menciptakan kebakaran yang ganas. Air bertemu angin melahirkan gelombang tsunami.

Baik dalam perkawinan atau perkawanan kita menemukan kerumitan itu. Itu masalah kecocokan. Sebab harus ada dua tangan untuk bisa bertepuk. Dua jiwa hanya mungkin bertemu dan menyatu kalau hajat mereka sama. Hikmah itulah yang disampaikan Rasulullah saw, “jiwa-jiwa itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang paling mengenal diantara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah.

Senin, 01 Agustus 2011

Sambut Ramadhan, Masjid AS Siapkan Pelantun Al Qur’an dan Hafidz



STERLING, AS_ : Saat Ramadhan mengetuk pintu, masjid-masjid AS pun bersiap menyambut jamaah membludak untuk mengikuti shalat Tarawih. Salah satu persiapan adalah mengerahkan semua imam terbaik yang fasih melantukan Al Qur’an.
“Shalat Tarawih sangat panjang, sehingga kami ingin menghadirkan lantunan lebih indah bagi telinga jamaah,” ujar Hatim Yousef, salah satu imam di Masyarakat Muslim Seluruh Kawasan Duller (ADAMS) di Sterling.
Muslim AS juga mengawali Ramadhan pada Senin, 1 Agustus. Ketika Ramadhan Tiba, menurut Hatim, Muslim AS, meski mereka yang tidak pernah berkunjung ke masjid, akan membanjiri rumah ibadah untuk shalat jamaah, terutama Tarawih yang dimulai pada pukul 10 malam hingga tengah hari, usai berbuka.
Masjid-masjid juga menghadirkan para hafidz, mereka yang menghafal seluruh Al Quran untuk melakukan tadaruz seusai shalat Tarawih.
Di antara para siswa Yousef, terdapat pemuda berusia 14 tahun yang telah menjadi hafidz. Ia akan duduk di samping Yousef selama Ramadhan untuk mengoreksi bila ia melakukan kesalahan.
Kesulitan
Dalam komunitas Muslim yang relatif baru di AS, orang yang mampu melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an, terlebih hafal, tak selalu mudah ditemukan
Salah satu penyebab adalah larangan pemberian visa terhadap ulama Muslim dari Timur Tengah. Alhasil banyak pemuda Muslim AS yang lahir di AS mengambil tanggung jawab dalam peran tersebut.
Yousef, 35 tahun, mempelajari musik sakral dalam Islam di Dubai, lalu sastra Inggris dengan fokus penyair Wales, Dylan Thomas. Kini ia menjadi imam dalam beberapa shalat berjamaah harian di ADAMS sekaligus memberi pelajaan mengaji di sekolah masjid.
Kini dibentuk program pelatihan imam baru, yang pertama mendapat akreditasi negara. Pelatihan itu juga didukung Institut Internasional Pemikiran Islam di Herndon. Dalam program itu ditawarkan pelatihan berkotbah oleh para khatib Episcopal.
Masjid lain cukup beruntung bisa mendapat imam ternama untuk memimpin jamaah selama Ramadhan, seperti Islamic Center, di Virginia Utara, Fairfax. Pusat komunitas itu kini menghadirkan imam SHeikh Mohammad Alraee, yang berasal dari Arab Saudi.
“Begitu anda mendengar suaranya, sungguh anda menemukan atmosfer spiritual berbeda,” ujar pempimpin Islami Center, Muhammad Farooq.
[Republika]
DAKTACOM